Archive for May, 2015

Teman yang baik adalah teman yang hanya dengan melihatnya saja, mengingatkan kita pada akhirat.

Membersamainya membuat kita semangat untuk tholabul ‘ilm.

Duduk bersamanya menghilangkan segala kepenatan dunia yang tiada habisnya, merecharge diri untuk bisa menghadapi tantangan yang ada di depan.

Berpisah dengannya membuat kita rindu ingin segera bertemu.

Advertisements

Leave a comment »

Entah…

Entah…

Bingung lihat orang yang begitu mau tahu urusan orang.

Lihat orang sibuk, dia merasa aneh orang mengerjakan apa.

Lihat orang santai, dia protes kenapa orang tidak punya kesibukan.

Di matanya, yang terbaik itu hanya apa yang dia lakukan.

Kenapa harus sibuk memikirkan apa yang orang lain kerjakan, kalau kita saja tidak sempurna dalam segala hal.

Seolah-olah, kita sedang mencari celah untuk menjatuhkan orang lain dari apa yang kita komentari.

Begitulah Rasulullah Saw menyampaikan dalam sabdanya: “Berbahagialah orang yang disibukkan dengan aibnya sendiri, sehingga ia tidak sempat memperhatikan aib orang lain.” (HR Al-Bazzar dengan Sanad hasan)

Leave a comment »

Jauhi Sikap Sombong…

Suatu keanehan bila manusia yang tidak punya kuasa apapun bisa berlaku sombong, bahkan sampai meremehkan orang lain. Kemuliaan seseorang hanya dilihat dari harta, jabatan, status, keturunan, atau hal lainnya yang bersifat duniawi. Cara pandang yang seperti itu bahkan sampai mempenagruhi caranya memperlakukan orang lain. Dia akan bersikap baik hanya dengan orang yang status sosialnya tinggi, hartanya berlimpah, atau dengan orang-orang yang punya kedudukan.

Lalu bagaimana Islam mengajarkan kita memperlakukan orang lain?

Salah satu tujuan diutusnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah untuk memperbaiki akhlaq manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang baik.” (HR. Ahmad 2/381. Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan bahwa hadits ini shahih)

Islam adalah agama yang mengajarkan akhlaq yang luhur dan mulia. Banyak dalil Al Quran dan As Sunnah yang memerintahkan kita untuk memiliki akhlaq yang mulia dan menjauhi akhlaq yang tercela. Demikian pula banyak dalil yang menunjukkan pujian bagi pemilik akhlaq baik dan celaan bagi pemilik akhlaq yang buruk. Salah satu akhlak buruk yang harus dihindari oleh setiap muslim adalah sikap sombong.

Sikap sombong adalah memandang dirinya berada di atas kebenaran dan merasa lebih di atas orang lain. Orang yang sombong merasa dirinya sempurna dan memandang dirinya berada di atas orang lain. (Bahjatun Nadzirin, I/664, Syaikh Salim al Hilali, cet. Daar Ibnu Jauzi)

Sifat seperti itu berarti melecehkan dan meremehkan orang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Sombong adalah sikap menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91). Yang dimaksud di sini adalah meremehkan dan menganggapnya kerdil. Meremehkan orang lain adalah suatu yang diharamkan karena bisa jadi yang diremehkan lebih mulia di sisi Allah seperti yang disebutkan dalam ayat di atas.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 713).

Islam Melarang dan Mencela Sikap Sombong

Allah Ta’ala berfirman,

وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اللأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَجُوْرٍ  {18}

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman:18)

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ

“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An Nahl: 23)

Haritsah bin Wahb Al Khuzai’i berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ قَالُوا بَلَى قَالَ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ

Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabbur (sombong). (HR. Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853).

Ingatlah bahwa orang  jadi mulia di sisi Allah dengan ilmu dan takwa. Jangan sampai orang lain diremehkan dan dipandang hina. Allah Ta’ala berfirman,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al Mujadilah: 11)

Seorang mantan budak pun bisa jadi mulia dari yang lain lantaran ilmu. Coba perhatikan kisah seorang bekas budak berikut ini.

أَنَّ نَافِعَ بْنَ عَبْدِ الْحَارِثِ لَقِىَ عُمَرَ بِعُسْفَانَ وَكَانَ عُمَرُ يَسْتَعْمِلُهُ عَلَى مَكَّةَ فَقَالَ مَنِ اسْتَعْمَلْتَ عَلَى أَهْلِ الْوَادِى فَقَالَ ابْنَ أَبْزَى. قَالَ وَمَنِ ابْنُ أَبْزَى قَالَ مَوْلًى مِنْ مَوَالِينَا. قَالَ فَاسْتَخْلَفْتَ عَلَيْهِمْ مَوْلًى قَالَ إِنَّهُ قَارِئٌ لِكِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِنَّهُ عَالِمٌ بِالْفَرَائِضِ. قَالَ عُمَرُ أَمَا إِنَّ نَبِيَّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- قَدْ قَالَ « إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ »

Dari Nafi’ bin ‘Abdil Harits, ia pernah bertemu dengan ‘Umar di ‘Usfaan. ‘Umar memerintahkan Nafi’ untuk mengurus Makkah. Umar pun bertanya, “Siapakah yang mengurus penduduk Al Wadi?” “Ibnu Abza”, jawab Nafi’. Umar balik bertanya, “Siapakah Ibnu Abza?” “Ia adalah salah seorang bekas budak dari budak-budak kami”, jawab Nafi’. Umar pun berkata, “Kenapa bisa kalian menyuruh bekas budak untuk mengurus seperti itu?” Nafi’ menjawab, “Ia adalah seorang yang paham Kitabullah. Ia pun paham ilmu faroidh (hukum waris).” ‘Umar pun berkata bahwa sesungguhnya Nabi kalian -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah bersabda, “Sesungguhnya suatu kaum bisa dimuliakan oleh Allah lantaran kitab ini, sebaliknya bisa dihinakan pula karenanya.” (HR. Muslim no. 817).

Wallaahu a’lam bishshowwab…

Disarikan dari :

http://rumaysho.com/akhlaq/jangan-menghina-dan-meremehkan-orang-lain-7592.html

http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/jauhi-sikap-sombong.html

Leave a comment »

Pemberdayaan Perempuan dalam Pembangunan Berkelanjutan dan Berwawasan Lingkungan

Dian Pamularsih Anggraeni

Mahasiswa Magister Pengelolaan Lingkungan, Universitas Sriwijaya

16 Desember 2010

  1. PENDAHULUAN

Di era yang penuh dengan geliat modernisasi pembangunan ini, ironi sekali ketika masih terlihat begitu banyak fakta masalah perempuan Indonesia. Dengan kondisi perempuan yang masih stagnan seperti ini, lantas apakah peranan perempuan dalam pembangunan bangsa dan negara yang massif dan progresif serta sustainable dapat berjalan optimal ?

Peranan wanita dalam pembangunan adalah hak dan kewajiban yang dijalankan oleh wanita pada status atau kedudukan tertentu dalam pembangunan, baik pembangunan di bidang politik, ekonomi, sosial budaya maupun pembangunan di bidang pertahanan dan keamanan, baik di dalam keluarga maupun di dalam masyarakat.

Oleh karena itu, perlu diupayakan peranan perempuan dalam pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan yang berperspektif gender, yang dimaksudkan untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender atau kemitrasejajaran yang harmonis antara pria dengan wanita di dalam pembangunan.

  1. KETIDAKSETARAAN GENDER DAN UPAYA UNTUK MENINGKATKAN PERAN PEREMPUAN DALAM PEMBANGUNAN

Ketidaksetaraan Gender sebagai Akibat Ketidakpahaman dan Ketidakpekaan Gender (Gender blind)

Peran  gender  adalah  peran  sosial  yang  tidak  ditentukan  oleh perbedaan  kelamin  seperti  halnya  peran  kodrati.  Oleh  karena  itu,  pembagian peranan  antara  pria  dengan  wanita  dapat  berbeda  di  antara  satu  masyarakat dengan masyarakat lainnya, juga  dapat  berubah  dari  masa  ke  masa karena  pengaruh  kemajuan  pendidikan, teknologi,  ekonomi,  dan  lain‐lain. Peranan wanita dalam pembangunan yang berwawasan gender, berarti peranan wanita dalam pembangunan sesuai dengan konsep gender atau peran gender yang mencakup peran produktif, peran reproduktif dan peran sosial yang sifatnya dinamis.

Peran produktif adalah  peran  yang  dilakukan  oleh  seseorang,  menyangkut  pekerjaan  yang menghasilkan  barang  dan  jasa,  baik  untuk  dikonsumsi  maupun  untuk diperdagangkan.  Peran  ini  sering  pula  disebut  dengan  peran  di  sektor  publik. Peran  reproduktif  adalah  peran  yang  dijalankan  oleh  seseorang  untuk  kegiatan yang berkaitan dengan pemeliharaan sumber daya manusia dan pekerjaan urusan rumah  tangga,  seperti  mengasuh  anak,  memasak,  mencuci  pakaian  dan  alat‐alat rumah, ini  disebut  juga  peran  di  sektor  domestik.  Peran  sosial  adalah  peran  yang dilaksanakan  oleh  seseorang  untuk  berpartisipasi  di  dalam  kegiatan  sosial kemasyarakatan, yang  menyangkut  kepentingan  bersama  (Kantor  Menneg  Peranan  Wanita,  1998; Pusat Studi Wanita Universitas Udayana, 2003; Sudarta, 2005 dalam Gender serta Implikasinya dalam Pembangunan Indonesia – Asep Soparil)

Kesadaran  akan  konsep  dan  peran  gender  ini  yang  menyebabkan munculnya  kesadaran  terhadap  adanya  ketidakadilan  dan  ketidaksetaraan terhadap  salah  satu  jenis  kelamin – dalam  hal  ini  perempuan – di  masyarakat.

Mengupayakan peranan perempuan dalam pembangunan yang berwawasan atau berperspektif gender, dimaksudkan untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender atau kemitrasejajaran yang harmonis antara pria dengan wanita di dalam pembangunan. Di samping itu, peningkatan kualitas perempuan menjadi dasar untuk menciptakan pembangunan yang berkelanjutan bagi suatu bangsa. Analisa ekonomi ini memberikan bukti bahwa rendahnya pendidikan dan ketrampilan perempuan, derajat kesehatan dan gizi yang rendah, serta terbatasnya akses terhadap sumber daya pembangunan akan membatasi produktivitas bangsa, membatasi pertumbuhan ekonomi, dan mengurangi efisiensi pembangunan secara keseluruhan.

Fenomena yang tampak belakangan ini menginformasikan kepada kita bahwa tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia menjadi lebih berat dan kompleks, termasuk di dalamnya adalah kualitas sumber daya manusia terutama yang berkenaan dengan kualitas perempuan Indonesia yang belum begitu menggembirakan. Padahal dalam rangka menghadapi era globalisasi pada masa sekarang ini, kebutuhan akan kualitas sumber daya manusia khususnya dari kalangan perempuan yang lebih unggul dan mampu bersaing dalam tatanan kehidupan global merupakan kebutuhan yang sangat urgen.

Persoalan penting yang secara kasat mata tampak menghalangi upaya meningkatkan kualitas golongan perempuan adalah pendekatan pembangunan kita yang belum benar-benar mengindahkan kesetaraan dan keadilan gender. Pembangunan di berbagai bidang yang diselenggarakan selama ini juga belum terlalu mampu mengangkat kualitas perempuan. Dalam hal kesetaraan dan keadilan gender, tampak bahwa belum sepenuhnya dapat diwujudkan, karena masih kuatnya pengaruh nilai-nilai sosial budaya yang patriarki. Perbedaan perilaku bagi perempuan dan laki-laki sebenarnya timbul bukan karena faktor bawaan sejak lahir tetapi lebih disebabkan karena sosial budaya masyarakat yang membedakan perlakuan terhadap perempuan dan laki-laki sejak awal masa perkembangan, yaitu masa kanak-kanak (Maccoby LE. Woman’s Sociobiological Heritage: Destiny or Free choice In Gullahorn J.E (ed). Psychology and Women in Transition. London  : John Wiley & Sons. 1979 dalam Gender dan Pembangunan Berkelanjutan).

Ketidaksetaraan gender ini terjadi sebagai akibat ketidakpahaman dan ketidakpekaan gender (Gender blind) yang diakibatkan oleh kegagalan besar masyarakat atau penentu kebijakan di dalam memahami relasi gender dalam pembangunan sebagai suatu kunci penentu terhadap pilihan-pilihan yang tersedia baik untuk pria maupun di dalam berpartisipasi untuk pembangunan.

Nilai-nilai ini menempatkan laki-laki dan perempuan pada kedudukan dan peran yang berbeda dan tidak setara. Keadaaan ini ditandai dengan adanya pembakuan peran, beban ganda, subordinasi, marjinalisasi, dan kekerasan terhadap perempuan. Kesemuanya ini berawal dari diskriminasi terhadap perempuan yang menyebabkan perempuan tidak memiliki akses, kesempatan dan kontrol atas pembangunan serta tidak memperoleh manfaat dari pembangunan yang adil dan setara dengan laki-laki. Di samping itu, ketidaktepatan pemahaman ajaran agama seringkali menyudutkan kedudukan dan peranan perempuan di dalam keluarga dan masyarakat.

Komitmen Pemerintah Indonesia untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dilandaskan pada pasal 27 UUD 1945 dan diperkuat melalui ratifikasi Konvensi Penghapusan segala Bentuk diskriminasi terhadap Perempuan (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women (CEDAW) ke dalam UU NO. 7 tahun 1984, serta landasan Aksi dan Deklarasi Beijing hasil Konferensi Dunia tentang Perempuan keempat di Beijing pada tahun 1995. Namun demikian, hal tersebut juga belum dapat menyetarakan kedudukan perempuan dan laki-laki dalam berbagai bidang kehidupan dan pembangunan.

Belum terwujudnya, kesetaraan dan keadilan gender ini diperburuk oleh masih terbatasnya keterlibatan perempuan dalam proses pengambilan keputusan kebijakan publik. Yang dimaksud dengan kebijakan publik di sini adalah kebijakan yang ditetapkan oleh lembaga-lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif termasuk TNI dan Polri. Dengan demikian, untuk mewujudkan keadilan gender harus dilakukan upaya sebagai berikut : peningkatan peran perempuan dalam pengambilan keputusan di berbagai proses pembangunan, termasuk dalam perencanaam dan pengawasan, penguatan peran masyarakat, dan peningkatan kualitas kelembagaan berbagai instansi pemerintah, organisasi perempuan dan lembaga-lembaga lainnya.

III.    PERLUNYA UPAYA PERWUJUDAN PEMBANGUNAN BERPERSPEKTIF GENDER YANG BERKELANJUTAN DAN BERWAWASAN LINGKUNGAN

Dalam rangka mewujudkan kualitas perempuan, kesetaraan dari keadilan gender  yang masih sulit untuk dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat, maka diperlukan upaya yang lebih besar untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang gender,  sehingga berbagai ketimpangan sebagai akibat dari masalah struktural dan nilai-nilai budaya yang telah lama ada dan berkembang dalam masyarakat dapat dikurangi. Dan pada gilirannya pemberdayaan perempuan menjadi elemen penting dari pelaksanaan pembangunan berkelanjutan (sustainable development), serta berwawasan lingkungan.

Upaya Perwujudan Kesetaraan Gender

Di Indonesia sendiri berbagai upaya perwujudan kesetaraan gender (relasi antara laki-laki dan perempuan) juga terus mengalami penguatan. Berbagai upaya tersebut antara lain yang terkait dengan berbagai resolusi internasional yang telah disepakati oleh pemerintah Indonesia, diantaranya ialah :

  1. Declaration of Mexico on The Eguality of Women and Their Contribution to Development and Peace (Mexico, 1975), “Women have a vital role to play in the promotion of peace in all sphares of life, in the family, the community, the nation, and the world. Women must participate equally with men in the decision making process which help to promote peace at all the levels”.
  2. World Plan of Action for The Implementation of The Objectives of The International Women ‘s Year.
  3. World Conference of The United Nations Decade for Women di Copenhagen pada tahun 1980. Inti acara dari konferensi ini antara lain ialah me-review hasil pelaksanaan United Nations Decade for Women.
  4. KTT Ibu Negara tentang Pemberdayaan Perempuan Pedesaan, diselenggarakan di Jenewa pada Tahun 1992 dan di Malaysia tahun 2000.
  5. Dimuatnya Klausul tentang Peningkatan Peranan Perempuan dalam Proceedings KTT Non Blok di Jakarta pada Tahun 1994.
  6. World Conference IV of The Role of Women di Beijing pada bulan September Tahun 1995. Konferensi dunia ini menghasilkan Beijing Declaration and Platform of Action yang memuat 12 bidang kritis yang menjadi perhatian dunia mengenai hal-hal yang menghambat penyamaan kedudukan, hak dan peranan perempuan sedunia dalam pembangunan keduabelas bidang kritis tersebut antara lain perempuan dan media, perempuan dan kemiskinan, perempuan dan konflik bersenjata, perempuan dan ekonomis, perempuan dan pendidikan dan sebagainya. Selanjutnya setiap pemerintah harus komit untuk melaksanakan landasan bagi aksi kegiatan dengan menjamin bahwa pendekatan gender dicerminkan pada semua kebijaksanaan dan program kerja.
  7. Special Session of The United Nations General Assembly di New York tahun 2000 yang bertemakan “Women 2000: Gender Eguality, Development And Peace for The Twenty-First Century”.

Pemerintah Indonesia juga telah mengambil kebijakan, tentang perlu adanya strategi yang tepat yang dapat menjangkau ke seluruh instansi pemerintah, swasta, masyarakat kota, masyarakat desa dan sebagainya. Strategi itu dikenal dengan istilah pengarusutamaan gender (gender mainstreaming), Strategi ini tertuang di dalam Instruksi Presiden (Inpres) No. 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional. Secara operasional, pengarusutamaan gender diartikan sebagai suatu upaya yang dibangun untuk mengintegrasikan kebijakan yang berwawasan gender dalam pembangunan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi. Strategi itu bertujuan untuk dapat dilaksanakannya perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi atas program pembangunan nasional yang berwawasan gender sedemikian rupa, sehingga terwujud kemitrasejajaran yang harmonis antara pria dengan wanita dalam berbagai bidang kehidupan dan pembangunan (termasuk bidang politik).

IV.  PERANAN PEREMPUAN INDONESIA DALAM PEMBANGUNAN BERPERSPEKTIF GENDER YANG BERKELANJUTAN DAN BERWAWASAN  LINGKUNGAN

Kiprah Perempuan Indonesia dalam Pembangunan Nasional, Bangsa dan Negara

Keterlibatan perempuan Indonesia dalam kehidupan perjuangan bangsa Indonesia dapat diselusuri dari masa kerajaan Hindu, masa kolonialisme, masa penjajahan Jepang dan masa kemerdekaan. Uraian ringkas keterlibatan perempuan dalam kehidupan bangsa menurut kurun waktu tersebut sebagai berikut:

  1. Sejak zaman kerajaan Hindu, bangsa Indonesia telah mengenal dan memiliki perempuan-perempuan penguasa (Pemimpin) perempuan seperti Dewi Suhita dan Tri Bhuwana Tungga Dewi.
  2. Pada masa kolonialisme banyak perempuan yang berjuang melawan dan menentang kekuasaan penjajahan dari Belanda seperti Cut Nyak Dien dalam peperangan di Aceh pada Tahun 1873 – 1904, Nyi Ageng Serang dalam peperangan Diponegoro     pada tahun 1925 – 1830, dll. Selain kontribusi fisik, tokoh-tokoh perempuan yang mengkontribusikan tenaga dan pikirannya untuk meningkatkan harkat dan martabat kaum perempuan melalui kegiatan pendidikan dan kegiatan sosial pada masa kolonial tersebut diantaranya ialah Dewi Sartika pada tahun 1884 – 1947, Kartini pada tahun 1879 – 1904, dan Nyi Achmad Dahlan pada tahun 1912 – 1945.
  3. Pada masa penjajahan Jepang, melalui Departemen Wanita dan Kebaktian Rakyat Jawa Madura (FUJINKAI), banyak Perempuan Indonesia yang berperan serta secara akfif dalam mengembangkan sikap cinta tanah air dan bangsa, mengembangkan kebiasaan hidup sederhana dan menguasai berbagai keterampilan untuk memperoleh kehidupan ekonomi seperti pengolahan lahan pekarangan untuk ditanami tanaman-tanaman yang bergizi .

Semua bentuk keterlibatan perempuan Indonesia di dalam keseluruhan kehidupan perjuangan bangsa dan negara merupakan petunjuk bahwa kaum Perempuan di Indonesia pada dasarnya sejak dulu sudah merupakan bagian dalam pembangunan nasional, bangsa dan negara. Dengan demikian, pertumbuhan pembangunan nasional tidak dapat dipisahkan dari keberadaan perempuan sebagai aset pembangunan dan eksistensinya sebagai manusia yang memiliki keluhuran harkat dan martabat seperti halnya pria.

Pendekatan Pembangunan Berperspektif Gender

Pembangunan nasional Indonesia merupakan rangkaian upaya pembangunan yang berkesinambungan dan meliputi keseluruhan kehidupan masyarakat, bangsa dan negara di dalam mewujudkan tujuan nasional yang termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Peningkatan peran perempuan dalam pembangunan bangsa pada hakekatnya adalah upaya meningkatkan kedudukan, peranan, kemampuan, kemandirian dan ketahanan mental serta spiritual perempuan sebagai bagian tak terpisahkan dari upaya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Pembangunan sebagai suatu kegiatan pengubahan berencana dan direncanakan memiliki tujuan untuk mengadakan perubahan perilaku (kondisi, afeksi dan ketrampilan) positif dari khalayak sasaran pembangunan yang diharapkan dan dirancang untuk dapat menghasilkan kemanfaatan bagi orang banyak, yaitu masyarakat secara keseluruhan. Karena itulah peningkatan peran perempuan dalam pembangunan merupakan kesepakatan dunia yang dilakukan untuk kemanfaatan pembangunan.

Berbagai pendekatan pembangunan yang dipergunakan untuk meningkatkan peran perempuan dalam pembangunan menunjukkan bahwa pendekatan pembangunan yang diwujudkan hanya pada perempuan atau hanya pada pria akan mempunyai dampak yang sangat terbatas. Karena itu, kebijakan proyek-proyek pembangunan dialihkan ke arah pendekatan gender yang bertujuan untuk mewujudkan pengintegrasian perempuan dan pria dalam semua sektor pembangunan sesuai dengan potensi serta kebutuhan masing-masing.

Pembangunan berwawasan kemitrasejajaran antara pria dan perempuan dengan pendekatan jender dan Pembangunan (JDP) atau Gender And Development (GAD).

Pendekatan ini dimaksudkan untuk lebih meningkatkan kedudukan dan peran perempuan dalam pembangunan di berbagai kehidupan selain melalui pendekatan Perempuan dalam Pembangunan (Women In Development (WID) yang telah digunakan sejak Pembangunan Lima Tahun ke-III (Pelita Ill), Gabungan dua pendekatan pembangunan tersebut didasarkan atas keyakinan dan pemahaman bahwa program-program peningkatan peran perempuan ke dalam kebijakan dan strategi pembangunan nasional akan memberikan dampak yang lebih positif dan lebih menguntungkan bagi perempuan daripada hanya dengan mengembangkan program-program spesifik perempuan.

Wanita dan Pembangunan (WPD) adalah pendekatan pembangunan yang ditujukan secara khusus kepada perempuan. Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk meningkatkan kemampuan perempuan agar turut serta dalam proses pembanguan secara serasi dan selaras sehingga memungkinkan perempuan mengejar ketinggalannya dari pria. Kegiatan pembangunan dalam pendekatan pembangunan WPD adalah berupa proyek-proyek khusus perempuan yang diarahkan pada upaya persolusian persoalan dan permasalahan perempuan. Program dan proyek khusus perempuan dalam beberapa segi kehidupan masih diperlukan terutama mengingat kesenjangan antara pria dan perempuan masih sangat nyata. Untuk itu diperlukan perhatian dan penanganan secara khusus melalui proyek-proyek yang sasarannya hanya perempuan (Women Spesific Projects). Proyek-proyek untuk mengejar ketinggalan perempuan yang disebut proyek peningkatan peran perempuan atau disingkat P2W, sampai saat ini masih dilaksanakan khusus oleh beberapa Departemen dan lembaga-lembaga non departemen serta organisasinya kemasyarakat.

Sedangkan Gender dan Pembangunan (JDP) adalah pendekatan pembangunan yang mengintegrasikan aspirasi, kepentingan dan peran pria dan perempuan yang memungkinkan perempuan mengejar ketinggatannya dari pria dan sebagai upaya mengubah hubungan gender yang merugikan salah satu pihak menuju hubungan gender yang selaras dan serasi. Dalam pembangunan berdasarkan pendekatan gender dicegah terjadinya kesenjangan hak, kedudukan dan kesempatan berperan antara pria dan perempuan, serta sekaligus dihindari adanya upaya-upaya yang dapat merugikan pria atau perempuan. Pelaksanaan pendekatan JDP diarahkan pada upaya pengubahan ketidakseimbangan hubungan kekuasaan antara pria dan perempuan dengan memperhatikan kebutuhan dan potensi masing-masing.

Perempuan dan Keterkaitannya dengan Pembangunan yang Berwawasan Lingkungan

Tingginya tingkat pertumbuhan ekonomi hendaknya juga dibarengi dengan tingginya perhatian pada lingkungan. Karena kegiatan pembangunan ini baik secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi kondisi lingkungan. Jangan sampai kita hanya mengejar pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, tetapi disisi lain kita ’mengorbankan’ lingkungan kita dengan mengeksploitasi sumber daya secara besar-besaran tanpa memperhatikan dampak lingkungan yang akan terjadi. Oleh karena itu, pembangunan yang dilaksanakan harus memperhatikan aspek lingkungan, dengan menerapkan pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Dalam Piagam Bumi (Earth Pledge) yang merupakan sebagian hasil kesepakatan KTT Bumi di Rio de Janeiro, Brazil berisi pernyataan “Bahwa segala perbuatan manusia terhadap alam dan lingkungan merupakan awal dari kerusakan alam dan sumber daya yang sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan manusia dan pembangunan”. Sebagian besar umat manusia di bumi tanpa sadar telah mencemari dan meracuni lingkungan hidupnya sendiri, dan tidak memikirkan bahwa suatu waktu lingkungan hidup akan menghadapi ancaman maut, yang berarti pula mautnya seluruh umat manusia di bumi ini. Dari uraian tersebut tersirat bahwa sesungguhnya sumber yang menimbulkan masalah lingkungan adalah ulah manusia yang dalam aktivitasnya tidak mempedulikan keseimbangan dan keserasian lingkungan.

Dalam hal ini, peran kaum perempuan tidak bisa diabaikan, yang mungkin selama ini tidak diberi kesempatan yang sama dalam pengambilan kebijakan lingkungan. Padahal keadilan dan kesetaraan di bidang ekologi (studi relasi makhluk hidup dan lingkungannya) telah jadi salah satu isu penting dalam pengarusutamaan gender demi menyelamatkan lingkungan hidup. Dimana perjuangan ini sering dikenal dengan istilah ekofeminisme.

Ekofeminisme merupakan pengembangan kini dalam pemikiran feminisme         -yang mendobrak cara pandang maskulin-, bahwa krisis lingkungan global akhir-akhir ini adalah diramalkan hasil dari kebudayaan patriarkhal. Dari pemikiran tersebut terlihat bahwa perempuan juga mempunyai peran yang sangat besar dalam kondisi lingkungan yang ada.

Keterlibatan perempuan dalam pengelolaan dan pembangunan yang berwawasan  lingkungan sangat besar  terutama dalam lingkup yang kecil, yaitu rumah tangga dan sekitarnya.

Dalam perannya sebagai pengelola rumah tangga, perempuan telah banyak berinteraksi dengan lingkungan dan sumber daya alam. Itulah mengapa, dalam beberapa kajian alam semesta acapkali disimbolkan dengan perempuan atau ibu. Sebab kearifan perempuan dalam pengelolaaan lingkungan telah banyak memiliki makna positif. Sayangnya selama ini peran tersebut terus direduksi sehingga perempuan kehilangan peranannya melestarikan lingkungan. Padahal dampak kerusakan lingkungan lebih banyak dirasakan oleh mereka. Contoh sederhana adalah berkurangnya ketersediaan air. Bila ketersediaan air bersih berkurang maka kaum perempuanlah yang kebingungan karena air bersih yang ada tidak mencukupi kebutuhan dalam rumah tangganya.

Memang, ekofeminisme tidak berkutat pada upaya penyelamatan lingkungan hidup saja. Tapi ekofeminisme juga merupakan seluruh kegiatan dalam merawat lingkungan, anak, keluarga, dan peduli terhadap sesama. Sebagai individu-individu banyak hal yang telah dilakukan perempuan. Antara lain:

Pertama, Pengelolaan Sampah Rumah Tangga. Selama ini sampah rumah tangga telah menimbulkan berbagai persoalan termasuk banjir di pemukiman-pemukiman penduduk karena sampah yang menyumbat saluran air. Apalagi di kota-kota besar, minimnya daerah resapan air dan pembuangan sampah rumah tangga semakin memperparah banjir apabila musim hujan tiba. Karenanya, meski belum semuanya, tapi telah banyak perempuan terutama ibu-ibu rumah tangga memulai kegiatannya sehari-hari dengan pengelolaan sampah rumah tangga. Mereka bekerja dengan memisahkan sampah rumah tangga berdasarkan jenisnya, yaitu sampah organik dan non organik.

Kedua, Penggunaan Produk Rumah Tangga Ramah Lingkungan. Perempuan memiliki peran dominan dalam penentuan barang konsumsi rumah tangga. Karenanya, perempuan dapat dengan mudah memilih menggunakan barang-barang rumah tangga yang ramah lingkungan dan hemat energi.

Ketiga, Pendidik Lingkungan. Seorang perempuan atau ibu merupakan media edukasi pertama bagi anak-anak. Telah banyak perempuan yang melakukan pendidikan dan penyadaran mengenai kepedulian terhadap lingkungan bagi anak-anaknya sejak dini. Penerapan pola pengelolaan sampah dan pemilihan produk ramah lingkungan yang mereka lakukan di lingkup keluarga, telah memberi bekal berharga bagi anak-anak untuk terbiasa menjaga lingkunganya. Dengan begitu diharapkan ke depan akan terbentuk generasi-generasi yang lebih peduli pada lingkungannya.

Dari penjelasan yang telah dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa semua dapat berperan dalam upaya pembangunan bangsa dan negara. Laki-laki memang berbeda secara fitrah, namun tidak untuk dibedakan pada kapasitas peranan dan kiprah pengabdian untuk bangsa tercinta, Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Dwi Susilo, Rachmad K. Sosiologi Lingkungan. Jakarta. Rajawali Pers. 2009

Fachrudin, Hafizh. Perempuan dan Perjuangan untuk Lingkungan – Al Arham Edisi 31 (B).  http://www.rahima.or.id/index. 1 November 2010

Keraf, A. Sonny. Etika Lingkungan. Jakarta. Penerbit Buku Kompas. Juli 2002

Parawansa, Khofifah Indar. Pemberdayaan Perempuan dalam Pembangunan Berkelanjutan. Bali. 15 Juli 2003.

Soparil, Asep. Gender serta Implikasinya dalam Pembangunan Indonesia – Asep Soparil. 2005

Trivandi, Rama Hiola. Jurnal Inovasi Provinsi Gorontalo Volume II, Nomor 1 “Sikap Gender Terhadap Pengelolaan Lingkungan di Provinsi Gorontalo”. Lembaga Penelitian Universitas Negeri Gorontalo dan Badan Lingkungan Hidup. 3 Desember 2007.

Leave a comment »